Saturday, May 4, 2019

IWQ 2


Siapakah aku?
Bacalah tulisanku

Karena diantara kata ada ceritaku terselip.
Selamat mencari dan salam kenal semuanya



Quote: hujanrainamebi

IWQ 1


Terkadang 100 chapter tidak bisa menuangkan satu kisah

Panjang memang, namun teruslah baca
Agar kisah itu berlanjut


Quote: hujanrainamebi

3 Kata



Ada cerita yang tak terkata diujung senja
Terselip cinta tak bertuan pada helai daun
Rasa rindu menguar dari relung hati
Senyum yang nampak fatamorgana

Ada cerita tak terkata diujung senja
Tanpa sempat rindu terucap 
Malam membekap lara
Tanpa pernah kau tahu rasa itu
Tertulis namamu 

Apakah aku begitu naif?
Untuk terus menunggu ketidakpastian
Ataukah itu kebodohan?
Dibodohi oleh rasa yang sebenarnya semu
Harusnya aku bisa pergi, memilih satu dari 3 jalan di persimpangan
Hanya saja aku memilih untuk berhenti
Termangu
Menunggu
Waktu terbiar berlalu

Hatiku yang meronta meminta menunggu


Ketiadaan



Tangan yang sedianya akan singgah ke pundak itu kini jatuh terkulai di sisi tubuhku.
Apa yang aku lihat bukanlah sosokmu, melainkan dinding kamar berwarna tosca.
Ternyata, itu hanyalah nyata yang tercipta dalam lelap tidurku. Mimpi

Ku dengar suaramu dalam lamun panjangku yang sunyi
Ku lihat senyummu di tidur malamku
Ku rasakan hangat jemarimu yang ternyata semu
Dan harum itu... menguar bukan dari tubuhmu
Aku tersedu dalam diam keterpanaanku

Pernahkah kalian naik wahana roller coaster?
Angin semilir menyegarkan dan rasa debar memenuhi relung hati
Lalu, terjatuh. Seakan luluh lantak tubuh
Aku tak pernah suka sensasi itu. Tidak.
Sama seperti sekarang ini, saat aku terduduk di pinggir ranjang dan menyadari kehampaan tanpamu.

Berharap mimpi itu terus berlanjut dan berulang
Paling tidak, aku bisa melihatmu tanpa harus tersakiti
Ataukah aku masih sakit??

Kembali untuk Bercerita




Tiba-tiba aku... atau kita, lebih tepatnya
Berada di sini, di tempat yang sama
Kau, yang namamu saja ingin aku lupakan
Kembali di sini seakan menegaskan 
Kau tak mau dilupakan
Atau tak bisa aku lupakan

Kau tak sebiru dan seangkuh dulu
Terlihat rapuh dan lemah
Sekarang terasa kelam di mataku
Ada sarat kesedihan di punggungmu
Ataukah dulu aku salah menilai
Tak pernah benar mendengar ceritamu

Aku terdiam. Menatap dari balik punggungmu pilu
Tak lagi terasa jauh
Tapi tetap tak bisa aku jangkau
Haruskah aku tetap menunggu diam sampai kau pergi?
Atau berjalan pelan menepuk pundakmu
Dan menyapa "Hallo, Angkasa" ?

Apakah aku harus merajut cerita lagi?